|
Siti, terbaring sakit di penampungan korban perdagangan perempuan di Entikong, perbatasan Indonesia-Malaysia. Dirinya telah mengikhlaskan tidak dibayarkan gajinya selama bekerja oleh majikannya di Malaysia. Dia hanya ingin pulang. Mawar, 30 tahun adalah kisah lain. Perempuan asal Singkawang ini, dibuatkan pasport dan KTP daerah lain oleh agen untuk bekerja di Malaysia. Teryakini akan janji pekerjaan dengan gaji tinggi justru bermuara pada penjara di Malaysia. Didalam penjara ia diperdaya oleh aparat keamanan akan diberi ribuan ringgit, namun seringgit pun tiada. Kini Mawar pun merasa tak berarti. Kata pulang tak ada lagi dihatinya.
Lain lagi derita Ela, perempuan asal karawang. Ia ditawari pekerjaan di Malaysia dengan gaji Rp. 5 juta per bulan oleh seorang laki-laki yang mengaku agen di daerahnya. Ikutlah Ela dengan agen tersebut ke Pontianak. Sesampainya di Kota Pontianak, ia diperkosa oleh agen tersebut di hotel tempat menginap. Kemudian di Malaysia ia dijual kepada Agen orang Malaysia bernama Lie. Oleh Lie, Ela kembali diperkosa. Bila Ela melawan, pukulan yang didapatnya. Kemudian Ela dipekerjakan kepada David yang memberinya makan sekali sehari dengan makanan tidak halal. Satu ketika Ela terjatuh dari lantai tiga rumah majikannya. Ia pun dirawat di rumah sakit selama 4 (empat) bulan karena kedua kakinya patah. Setelah sembuh, Ia dibuang di sekitar bak sampak PPLB (Pos Pemeriksaan Lintas Batas) Entikong. Siti, Mawar dan Ela adalah sedikit kisah dari ribuan perempuan Indonesia yang telah bernasib sama. Semua menjadi korban dari perdagangan perempuan. Faktor ekonomi menjadi alasan utamanya. Mereka ingin mandiri dengan bekerja, tidak ingin mengemis. Mereka berani menempuh perjalanan lintas negeri untuk meraih hidup yang lebih berarti. Mereka hadir sebagai Kartini kita masa kini. Hampir semua penduduk Indonesia mengenal Kartini, termasuk Siti, Mawar dan Ela. Kartini menjadi emansipator perempuan Indonesia yang tiap tahun dikenang hari lahirnya. Kartini pun tidak lagi dimengerti sebatas seorang perempuan biasa jaman pra-kemerdekaan. Kartini kini menjadi simbol yang mewakili perempuan Indonesia. Simbol untuk memperjuangkan perlakuan yang adil untuk Perempuan. Siti, Mawar dan Ela mungkin pula pernah mengikuti Hari Kartini. Bukankah hampir setiap tahun jutaan masyarakat Indonesia merayakannya, mulai dari siswa sekolah dasar hingga para elit perempuan Indonesia. Tapi Siti, Mawar dan Ela tak pernah membayangkan akan menjadi korban perlakuan yang tidak manusiawi, yaitu diperdagangkan. Perdagangan manusia, dominannya perdagangan perempuan kini menjadi bisnis illegal terbesar ketiga di dunia, setelah narkotika dan senjata. Masalah perdagangan perempuan menjadi primadona atau objek dominan dalam bisnis perdagangan manusia. Wanita, dalam hal perdagangan orang, menjadi primadona korban. Berdasarkan data International Organization for Migration (IOM) 2009, yang dilansir www.bappenas.go.id, jumlah orang yang diperdagangkan 3.044. Jumlah itu terdiri atas bayi 0,2 persen, anak perempuan 22 persen, anak laki-laki 4 persen, perempuan dewasa 67 persen, dan laki-laki 6,8 persen. Jumlah korban perdagangan perempuan yang sebenarnya diperkirakan lebih tinggi dari yang bisa dilaporkan, karena ini termasuk fenomena gunung es. Sampai tahun 2009, Indonesia tercatat sebagai pengirim tenaga kerja yang tinggi. Kira-kira 6,5 juta tenaga kerja Indonesia saat ini bekerja di luar negeri dan kira-kira dua juta di antaranya bekerja tanpa dokumen resmi sehingga rentan menjadi korban kejahatan dan perdagangan orang. Sekitar 73 persen TKI di luar negeri adalah perempuan dan 76 persen di antara mereka adalah pembantu rumah tangga. Diperkirakan 46 persen dari penempatan tenaga kerja ke luar negeri terindikasi kuat sebagai kasus perdagangan orang. Salah satu jalur perdagangan perempuan tersebut melalui Kalimantan Barat, khususnya Entikong yang berbatasan langsung dengan Sarawak, Malaysia Timur. Menurut sejumlah pegiat anti perdagangan perempuan, Kalimantan Barat menjadi salah satu basisnya, yaitu tempat transit. Asal perempuan yang melewati Entikong pun beragam, mulai dari Kalimantan Barat sendiri, Pulau Jawa sampai NTT. Beragam kedok menutupinya, mulai untuk menjadi pembantu rumah tangga dengan gaji tinggi, bekerja keterampilan hingga menjadi duta seni atau pertukaran pelajar. Kedok terakhir ini motif baru yang tengah berkembang. Siti, Mawar dan Ela hanyalah contoh kecil dari ribuan perempuan Indonesia yang telah mengalami nasib yang sama, teraniaya dan tak menerima sepeser pun haknya. Telah ribuan perempuan Indonesia lari atau kembali melalui Entikong tak lagi berdaya. Untuk dapat pulang ke tempat asal menjadi mimpi yang sulit diraih. Bahkan ada diantara mereka yang tak kembali ke asalnya. Entah mereka malu untuk pulang seperti Mawar, hilang atau bahkan telah meninggal. Ironi ini tentunya sungguh menusuk nurani, mari kita bantu selamatkan mereka yang terlantar di Entikong untuk pulang ke rumah mereka, menikmati bahagianya berkumpul dengan keluarga. Layaknya kebahagiaan kita yang masih dapat berkumpul dengan keluarga kita. DU-Kalbar bekerjasama dengan Lembaga Anak Bangsa pimpinan Arsinah Soemitro di Entikong untuk keberlanjutan program penanganan korban perdagangan perempuan di Entikong. Harapannya terbangun satu shelter di sana. Dengan Zakat, Infak dan Shadaqah anda tentunya. Untuk layanan informasi dan donasi dapat menghubungi 081345653653 |